Berita dan Update Game Terbaru

Tren Cloud Gaming di Indonesia, Ekosistemnya Sulit Diprediksi – Ekosistem bisnis gim berbasis komputasi awan dinilai masih sukar diprediksi. Meskipun pandemi mengakselerasi masyarakat untuk akrab dengan digital, tapi masih banyak pekerjaan yang kudu diselesaikan. Presiden Asosiasi Game Indonesia (AGI) Cipto Adiguno mengatakan walaupun terasa banyak pemain yang masuk ke ranah cloud gaming, baru-baru ini Google Stadia baru saja menutup studio pengembangan gimnya dan memfokuskan Stadia sebagai penyedia tulang punggung proses cloud gaming lainnya. “Melihat ini aku rasa ekosistemnya masih sukar diprediksi,” ungkapnya selagi dihubungi Bisnis terhadap Minggu (21/2/2021).

Tren Cloud Gaming di Indonesia, Ekosistemnya Sulit Diprediksi

tren-cloud-gaming-di-indonesia-ekosistemnya-sulit-diprediksi

look-closer – Sekadar catatan, Google pekan ini memberitakan penutupan studio game yang bersangkutan. Ada dua kantor studio yang dibubarkan, di Los Angeles (AS) dan Montreal (Kanada).

Penutupan ini berimbas terhadap 150 orang pegawai bagian tim Stadia Games & Entertainment. Sebagian besar dialihkan untuk mengerjakan proyek baru. Dikutip lewat blog resmi Google, Google mengatakan alasan penutupan Stadia Game Studio berkaitan dengan selagi dan cost pengembangan gim yang dinilai tidak ekonomis.

Wakil presiden dan manajer lazim Google Stadia Phil Harrison menuliskan bahwa dengan menutup Stadia Games & Entertainment, Google tidak ulang terus bekerja keras mengembangkan gim untuk Stadia. “Membuat gim paling baik membutuhkan banyak selagi dan banyak investasi, tapi biayanya telah meningkat secara eksponensial,” ujarnya. Cipto mengatakan ekosistem yang diperlukan oleh cloud gaming adalah kecepatan dan stabilitas internet yang tinggi. Menurutnya, untuk negara maju saja masih sedikit yang sanggup memanfaatkannya dengan maksimal, bahkan infrastruktur Indonesia.

“Saat ini kekuatan tarik utama cloud gaming adalah tidak kudu beli alat khusus main gim yang mahal. Artinya seharusnya menyasar ekonomi menengah yang kudu pikir-pikir dulu beli konsol atau PC mahal. Padahal untuk memakai cloud gaming membutuhkan internet yang lumayan mumpuni dan termasuk tidak murah. Ada ketidak-cocokan di sini, yang aku rasa baru bakal terlewati di dalam jangka selagi beberapa th. ke depan,” ucapnya. Cipto mengamini bahwa bisnis cloud gaming adalah peluang besar bagi industri komputasi awan sehingga selagi ini yang kudu dipersiapkan adalah infrastruktur koneksi.

You may also like

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *